Friday, 2 December 2016

[Review] Ujung Titik – Album “Tekstular”


Kota malang pernah sebagai barometer music rock di Jawa Timur, bahkan nasional. Mayoritas warga Malang pada dekade 1970-an sangat menggemari music cadas, seperti Deep Purple dan Rolling Stones. Tidak heran, sudah banyak musisi rock kaliber nasional yang berasal dari Malang. Contohnya, Mickey Michael Merkelbach/Mickey Jaguar, Ian Antono, Teddy Sujaya, Fuad Hassan (Drummer pertama Godbless), Silvia Sartje dan masih banyak lagi.

Dari budaya itulah muncul band-band indie yang coba merebut hati masyarakat Malang.
Salah satu band indie Malang yang saya tahu adalah Ujung Titik. Berawal dari penampilan mereka dalam kegiatan amal yang bertajuk "Save hutan kota malabar". Kegiatan yang mengumpulkan para pemerhati lingkungan untuk meneriakkan kritik mereka pada kelompok masyarakat yang ingin mengganti hutan kota malabar menjadi taman kota. Ujung Titik juga ikut berpartisipasi dengan menyumbangkan single "Malabar Denyut Nadi Kita".

Informasi yang saya dapat, band ini akan mengeluarkan album perdananya. Album "Tekstular" kemudian nama yang diambil sebagai debut albumnya. Dari album yang berisi 8 lagu tersebut, saya mendapat bocoran beberapa lagu yang memang menjadi single andalan di album tekstular. Ada lagu 'Berita Sampah', 'Ujung Titik', dan 'Buka Mata Hati'. Memang ada banyak cerita yang diangkat, seperti tentang cinta, sosial, politik dan lingkungan.

Memang kalau ditelisik, band ini sangat kritis dilihat dari lirik-liriknya yang terkesan provokatif. Seperti di lagu Buka Mata Hati yang liriknya "Banyak yang gagal cerdas karena tak sekolah, Banyak yang gagal sehat karena kelaparan", membuktikan bahwa pesan yang disampaikan dalam lirik menjadi alat untuk membuat para pendengarnya lebih peka dalam sosial bermasyarakt. Belum lagi lagu "Berita Sampah" yang menekankan untuk segera mematikan frekuensi televisi karena banyaknya siaran-siaran yang tidak mendidik.

Album dengan ciri khas yang kuat ini sudah digambarkan dari cover album. Dimana ada sebuah gambar mesin ketik sebagai simbol kata ataupun teks. Kemudian ada gambar ujung dari terompet yang menandakan adanya suara dari kata yang sudah diketik di mesin ketik. Semacam narasi yang ditulis dan bisa mengeluarkan suara. Dari simbol-simbol itu kita seakan diberi tahu bagaimana lirik dalam lagu bisa menjadi semacam alat untuk menyampaikan aspirasi.

Tapi tidak seperti band biasanya yang memang punya warna dalam menentukan genre musik yang dipakai dalam sebuah album. Jujur band ini seperti tidak punya warna khas dalam menentukan genre musiknya. Dari lagu "Berita Sampah", "Ujung Titik", dan "Buka Mata Hati" memiliki aliran musik yang berbeda-beda. Ada rock, pop, ada juga jazz. Saya lebih sepakat jika ada satu aliran yang memang menjadi warna dari band ini. Diluar dari itu, musik yang dimainkan bisa dibilang mantap lah!

Kemudian musik yang terlalu dominan itu menutupi lirik-lirik dari lagu-lagu Ujung Titik yang memang menjadi kekuatan utama dalam mengekspresikan dan menyampaikan aspirasinya. Sehingga para pendengar memang harus jeli dalam mendengar setiap alunan lirik yang disampaikan.

Terlepas dari semua itu, band Indie yang digawangi oleh Riqar Manaba sebagai Vocal dan Aden Ashari sebagai Gitaris patut diapresiasi dengan mencoba untuk keluar dari jalur mainstream. Band ini mencoba untuk tidak mengikuti pasar yang melulu senang dengan hanya lagu bertemakan cinta. Mereka fokus untuk bagaimana menyampaikan aspirasi lewat musik.


Saturday, 29 October 2016

Sumpah Pemuda dan Komitmen Melahirkan Generasi Kritis


Sejarah telah mencatat bahwa gerakan pemuda dalam perkembangan republik ini punya peranan yang sangat penting. Setelah adanya organisasi Budi Utomo, muncul kemudian organisasi-organisasi kepemudaan dengan pelbagai ideologinya. “Sumpah Pemuda” yang kemudian dicetuskan tanggal 28 Oktober 1928 pada kongres pemuda ke-II itu menandakan mulai bangkitnya jiwa nasionalisme (persatuan) di kalangan pemuda dan melepaskan identitas daerah untuk berjuang atas nama republik.
“Bertanah air satu, berbangsa satu, dan berbahasa satu” adalah semboyan yang didengungkan pada saat itu. Jelinya pemuda saat itu dalam melihat celah pada masa kolonial. Kondisi sedang dijajah dan masyarakat berjuang atas nama daerah masing-masing. Tapi dengan adanya kongres pemuda yang melahirkan “Sumpah Pemuda”, menjadi awal semangat persatuan. Itu menandakan bahwa pemuda saat itu cukup kritis dalam menyikapi masalah republik ini.
Proklamasi kemerdekaan indonesia yang dibacakan oleh presiden soekarno pada tanggal 17 Agustus 1945 merupakan desakan pemuda-pemuda yang sebelumnya telah menculik soekarno-hatta ke daerah rengasdengklok dan memaksakan untuk secepatnya memproklamirkan kemerdekaan Indonesia. Dan bahkan para kaum intelektual muda (mahasiswa) jugalah yang berhasil meruntuhkan rezim bapak proklamator Indonesia.
Aksi besar terakhir adalah di tahun 1998 ketika mahasiswa meruntuhkan rezim orde lama yang otoriter dengan soeharto sebagai pucuk pimpinannya. Aksi itu sebenarnya merupakan akumulasi-akumulasi aksi dari angkatan 1974, gerakan mahasiswa yang sudah mengoreksi kinerja pemerintahan soeharto. Kemudian dilanjutkan diangkatan 1977/1978, angkatan 1980 sampai angkatan 1990. Masing-masing angkatan sedikit banyak telah berkontribusi atas tumbangnya orde baru.
Bercermin pada sejarah dengan melihat peran pemuda sangat sangat menarik untuk dibahas. Karena dimana ada gerakan perubahan, maka dipastikan ada unsur pemuda yang ikut ambil bagian didalamnya. Tanpa mengecilkan peranan kelompok-kelompok lain di masyarakat, para kaum muda memang selalu tampil di garda terdepan perkembangan republik ini.
Setelah mengukuhkan diri sebagai agent of change, pemuda semakin hari semakin tidak kelihatan taringnya. Di era reformasi sampai demokrasi ini mahasiswa yang disebut sebagai kaum intelektual seakan takut untuk berpendapat terhadap persoalan bangsa. Padahal estafet kepemimpinan republik berada ditangan pemudanya. Ibarat sebuah perahu, pemuda adalah nahkoda dan indonesia sebagai perahunya berlayar. Giliran pemuda, ingin perahunya terus berlayar atau diam dan tenggelam.
Sudah sering diskursus-diskursus atau kajian-kajian yang dilakukan terhadap gerakan mahasiswa dewasa ini. Ada yang dengan dalih “akademis” tidak punya waktu dalam berdiskusi sejenak untuk ngobrol masalah negara, karena sibuk dengan tugas kuliah sehingga malas untuk berorganisasi.
Hal yang sama juga terjadi pada angkatan ’70-’80 an. Malah mungkin lebih parah karena diterbitkannya peraturan pemerintah tentang Netralisasi Kehidupan kampus atau akrab disapa NKK/BKK. Tapi nyatanya, mahasiswa yang secara tertulis dilarang untuk berorganisasi tetap bisa berkontribusi dalam jatuhnya rezim orde baru. Jadi, toh tidak ada alasan mahasiswa tidak berorganisasi dengan alasan tugas dan kuliah.
Memang dalam melakukan sebuah perubahan, organisasi bukan merupakan satu-satunya jalan. Tapi organisasi merupakan alternatif yang paling efektif sebagai alat perubahan. Dengan, meminjam kata Pramudya Ananta Toer, didiklah masyarakat dengan organisasi dan didiklah pemerintah dengan perlawanan, mahasiswa diharapkan mampu menjawab tantangan zaman.
Persoalan yang dialami republik ini tidak hanya ada di satu atau dua sektor. Tapi hampir di semua sektor muncul permasalahan. Dalam aspek ekonomi semisal, para pengusaha-pengusaha asing yang mempunyai modal dengan bebas bisa mengeruk sumber daya alam dan membeli sumber daya manusia. Perusahaan-perusahaan multinasional sampai warung waralaba berhasil masuk ke desa-desa dan mematikan pedagang-pedagang kecil.
Dalam sektor pendidikan, khususnya universitas, mahasiswa disiksa dengan pembayaran SPP setiap semesternya yang kadang berbanding terbalik dengan sarana prasarana yang didapat. Yang ujung-ujungnya setelah lulus menjadi bagian dari perusahaan-perusahaan multi nasional yang dipekerjakan sebagai budak untuk mengkeruk sumber daya alamnya sendiri.
Itu cuma sedikit dari banyak sektor yang punya persoalan dan harus dibahas lebih jauh. Belum masalah kedaulatan pangan, kesejahteraan sosial, budaya, dll.
Nah, bagaimana mahasiswa bisa kembali mengambil peran setelah euforia kemenangan besar masyarakat yang berhasil melengserkan soeharto di kursi kekuasaan. Mahasiswa harus bangun melihat realita yang terjadi. Kenangan sejarah tidak akan bisa menjawab tantangan zaman yang sudah tidak relevan. Maka dari itu, formulasi-formulasi dalam mengatasi persoalan bangsa harus tetap ada dan berjalan kontinyu
Seperti kata M. Natsir, “ Teruslah mendayung dan engkau takkan terbawa arus.”
Pertama, yang harus diperbaiki adalah diri kita sendiri. Moral (akhlak) yang baik akan melahirkan pemikiran yang lebih jernih, rasional dan objektif. Menurut Imam Al-Ghazali, “Akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa dan dari padanya timbul perbuatan yang baik, tanpa memerlukan pertimbangan pikiran.”
Kalau kita tarik pada aspek agama, untuk membangun sebuah moral yang baik adalah dengan kerangka Iman, Islam, Ihsan. Menurut bahasa, Iman adalahtasdiq (membenarkan). Menurut istilah,  Iman adalah tasdiq dalam hati, ikrar dengan lisan dan dibuktikan dengan perbuatan atau iman adalah kepercayaan dalam hati meyakini dan membenarkan adanya tuhan dan membenarkan adanya semua yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW.
Islam, menurut bahasa adalah kedamaian, kesejahteraan, keselamatan dan penyerahan diri pada tuhan. Menurut isilah, Islam adalah agama yang diturunkan oleh Allah SWT  melalui Nabi Muhammad untuk disampaikan kepada ummatnya. Ihsan sendiri menurut bahasa adalah kebaikan dan menurut istilah adanya perlakuan baik yang dilakukan oleh manusia.
Pondasi ini kemudian yang harus digunakan untuk membangun moralitas. Karena ketiga aspek tersebut saling berkaitan dan tidak dapat dipisahkan.
Kedua, dengan berani menyuarakan pendapat. Setiap individu mempunyai passion yang berbeda-beda dalam berpendapat. Yang senang menyikapi persoalan dengan aksi, silahkan melakukan kasi demonstrasi. Yang suka menulis, silahkan bersuara lewat tulisan. Yang suka seni, silahkan mengadakan pertunjukkan seni entah itu musik, puisi atau drama teatrikal. Segala cara harus ditempuh untuk mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur.
Ketiga adalah dengan cara memasuki semua elemen masyarakat yang sepenanggungan sependeritaan. Ibnu haldun dalam muqaddimah menyebutkan, “Orang akan cenderung membuat komuni dengan orang yang sependeritaan.”
Antonio Gramsci menyebutnya dengan ‘intelektual organik’. Cerdik cendekia yang mampu mentransfer persoalan besar dalam nalar berfikir awam. Karena selama ini mahasiswa dianggap sebagai kaum elit. Dan, mahasiswa pun seolah-olah derajatnya berada paling atas diantara kelompok masyarakat yang lain. Sehingga istilah-istilah yang digunakan pun setinggi loteng gendung kampus. Mahasiswa yang seperti itu pun jarang mendapat perhatian dari masyarakat. Kuasai forum-forum publik yang bisa mengajarkan propaganda.
Ingatlah bahwa perubahan memang tidak akan terjadi jika dilakukan seorang diri. Tapi perubahan itu diawali dengan individu yang berani mengatakan benar sebagai kebenaran dan salah sebagai kesalahan.
Momen sumpah pemuda ini jangan hanya diperingati setiap tahunnya. Tapi juga harus ada refleksi, pelajaran yang diambil di dalamnya. Sumpah pemuda dicetuskan bukan karena eksistensi pemuda saat itu ingin diakui. Melainkan itu adalah sebuah respon kritis dalam menyikapi perbedaan suku-suku pada saat dan dengan cepat menyadari bahwa kemerdekaan akan tercapai jika kita bersatu. Terakhir pesan dari Spartacus, Gladiator Roma, bahwa, “Kita lebih baik mati daripada hidup dalam perbudakan.”

Friday, 12 August 2016

Pendidikan Kaum Tertindas atau Pendidikan Kaum Menindas


Paulo Freire dalam bukunya, Pendidikan Kaum Tertindas, mengatakan bahwa, metode belajar-mengajar yang baik adalah interaksi antara si pengajar dan si pelajar. Artinya, guru tidak boleh jadi subjek belajar dan murid menjadi objeknya. Meskipun guru dan murid punya tugas yang berbeda, tapi dalam konteks pendidikan, guru dan murid harus sama-sama memposisikan diri sebagai subjek pendidikan. Hal ini disebabkan karena murid yang diajar tidak harus menelan mentah-mentah apa yang disampaikan oleh si pengajar. Ada proses berfikir kritis murid dan bisa mengoreksi guru. Sehingga guru tidak hanya 'ceramah' di depan kelas. Tapi ada interaksi antara guru dan murid sebagai subjek-subjek. 

Soe Hok Gie juga pernah menulis, "Guru bukanlah dewa yang harus terus didengar dan murid bukanlah kerbau". Itu karena, pengalaman semasa sekolah saat seorang guru tidak terima dengan pendapat Soe Hok Gie yang mengkritisi pendapat sang guru. Dan sepulang sekolah ia berencana untuk menghajar guru yang tidak terima kritikan tersebut yang pada akhirnya mengurungkan niat tersebut. 

Berbicara pada masa sekarang, persoalan dunia pendidikan memang sangat kompleks. Kita bisa melihat banyak guru-guru yang sangat keras dalam mendidik murid-muridnya dan juga sebaliknya banyak murid-murid yang tidak santun dalam memperlakukan guru sebagai orang tua disekolah. Dibanyak media hari ini sering memuat berita tentang kekerasan di sekolah. Mulai dari guru di sidoarjo yang mencubit muridnya sehingga dipidanakan oleh orang tua murid tersebut. Kemudian baru-baru ini di Makassar, seorang guru yang habis babak belur dihajar oleh orang tua murid karena keras terhadap anaknya yang tidak mengerjakan PR.

Lantas siapa yang harus disalahkan? Guru kah? Murid kah? Atau Orang tua kah?

Disatu sisi guru bertugas untuk mencetak generasi cerdas dan kadang-kadang harus keras dalam mendidik. Disisi lain murid juga harus kritis terhadap pemikiran dan perilaku guru. Sekarang ada 2 subjek yang sama-sama mempunyai ego. Tak ayal, ini yang kadang memicu terjadinya perselisihan antara guru dan murid. Sehingga orang tua pun harus turun tangan dalam persoalan yang justru sering tidak menyelesaikan masalah. Memang, sanksi fisik merupakan alternatif mendidik yang memperkuat mental anak ketika teguran masih juga tidak berdampak.Dan, besar kemungkinan orang tua yang tidak terima juga akan menyikapi perlakuan guru terhadap anaknya.

Nah, kalau begitu, ada dua arah metode mengajar yang beda. Guru terhadap Murid. Orang tua terhadap anak (murid). Orang tua mendidik anaknya di rumah bisa jadi sangat berbeda dengan metode guru dalam mengajar di sekolah. Anak yang dirumahnya penuh dengan kasih sayang akan kaget ketika metode belajar yang keras didapatnya di sekolah.

Menurut saya, memang guru dan orang tua sama-sama sayang terhadap anak didiknya. Hanya, mereka punya cara berbeda dalam menafsirkan sayang tersebut. Jadi terhadap kasus kekerasan guru, murid dan orang tua itu tidak ada yang bisa kita salahkan. Karena semuanya salah. Guru yang keras dan melewati batas toleransi. Murid yang tidak santun. Dan orang tua murid yang ikut turun tangan membalas perbuatan guru.

Yang menjadi pekerjaan rumah bagi setiap unsur dalam pendidikan adalah saling introspeksi diri. Guru harus mendidik murid dengan keras tanpa harus melewati batas-batas toleransi. Murid harus santun terhadap guru tanpa menghilangkan sikap kritis terhadap pemikiran dan perlakuan guru. Orang tua murid juga harus mampu memahami posisi guru yang dituntut untuk menjadi pengajar keras sekaligus sayang terhadap anaknya. Sehingga suasana kondusif didunia pendidikan akan terjaga.

Murid sebagai generasi penerus juga akan nyaman untuk belajar sekaligus menjadi tahan banting dengan metode belajar yang keras.




Tuesday, 9 August 2016

Organisasi Mahasiswa: Kekeluargaan dan Profesionalisme


Ada banyak organisasi mahasiswa di Indonesia pada umumnya, dan Malang pada khususnya. Sehingga mahasiswa-mahasiswa yang haus akan forum-forum kritis ataupun diskursus-diskursus dapat terwadahi disetiap organisasi yang mempunyai ideologi dan asas yang beraneka ragam. Pelbagai ideologi atau asas itu kemudian yang menjadi pondasi mereka dalam berfikir dan menjalankan organisasi masing-masing. HMI, PMII, IMM, KAMMI, PMKRI adalah beberapa organisasi yang berasaskan keagamaan. GMNI, FMN, LMND adalah beberapa organisasi yang berasaskan pancasila.

Organisasi ibarat sebuah kapal yang berlayar. Mempunyai pemimpin (kapten kapal) dan awak kapal atau orang-orang yang ahli dalam menjalankan setiap elemen dari kapal. Dalam mengarungi lautan yang ganas, pemimpin dituntut untuk pandai membaca mata angin, situasi dan kondisi serta menjadi patron bagi seluruh awak kapal untuk sampai ke tujuan. Kristoforus Kolumbus (1451) adalah seorang penjelajah asal Genoa, Itali, yang menyeberangi Samudera Atlantik dan berhasil menemukan benua Amerika untuk pertama kalinya (meskipun masih banyak pendapat yang menentang hal itu). Perjalanan tersebut didanai oleh Ratu Isabella dari Kastilia Spanyol setelah ratu tersebut menaklukkan Andalusia.

Dalam mengarungi samudera atlantik, Kolumbus, tidak hanya bermodalkan nekat dan keberanian. Perjalanan tersebut penuh analisa dan pertimbangan sampai akhirnya ia percaya Bumi berbentuk bola kecil yang dapat dilalui kapal. Sama halnya memimpin sebuah organisasi, pemimpin tidak hanya harus punya modal nekat dan keberanian. Pemimpin harus memerlukan analisa yang kuat dan punya instrumen-instrumen pendukung dalam menjalankan kapal organisasi, semisal, kompas agar tidak tersesat di lautan dan awak kapal yang tangguh.

Dalam berlayar tentu harus punya visi dan tujuan yang jelas. Sehingga dapat memperhitungakan segala kemungkinan yang akan terjadi di tengah jalan.

Perjalanan untuk sampai ke tujuan tidak selamanya mulus. Kadang-kadang kapal menemui ombak yang ganas sampai badai yang sangat besar yang membuat kapal terombang-ambing dilautan lepas. Bahkan dapat membuat kapal menjadi bocor dan karam dilautan. Pertanyaannya kemudian, bagaimana menambal bagian kapal yang bocor dan menyelamatkan kapal yang tenggelam?
Sebelum berlayar, hal yang paling utama adalah bagaimana kita tahu rule of game-nya. Agar, masing-masing dari awak kapal mengetahui tugas pokok dan fungsinya. Misalkan, petugas mesin harus mengerti, kapan mesin dinyalakan atau dimatikan, kapan mesin dipercepat atau diperlambat dan menjaga kestabilan kapal. Atau semisal nahkoda, ia harus pandai membaca mata angin, garis lintang dan garis bujur agar kapal tidak dibawa ke tujuan yang salah.

Sama halnya dengan organisasi. Disetiap organisasi dikenal yang namanya konstitusi. Aturan main yang dibuat dan dijalankan oleh para anggotanya sebagai landasan untuk berlayar. Seorang anggota harus mengerti tugas dan fungsinya. Serta menjalankan hak dan kewajibannya sebagai anggota yang diatur dalam konstitusi. Begitu pula dengan Ketua Umum, ia juga harus mengerti tugas dan tanggungjawabnya serta menjalankan hak dan kewajibannya sehingga tidak ada disintegrasi disetiap personalia organisasi.

Jika aturan main tersebut dapat dijalankan dengan baik dan benar, maka besar kemungkinan kesalahan-kesalahan yang dapat mencelakai dapat diatasi dengan cepat. Karena, masing-masing personal sudah mengerti kewajiban masing-masing. Apalagi, kecelakaan yang terjadi rata-rata disebabkan karena human error.

Selain mematuhi konstitusi atau aturan main, setiap personal, khususnya pemimpin, harus memahami karakter dari setiap anggotanya. Menurut Prof. M. Jabir (1994), hal itu kemudian digunakan untuk menciptakan suasana yang nyaman sehingga hubungan setiap anggota menjadi harmonis dan memiliki sense of belonging. Dan secara kolektif saling menutupi kekurangan dan ‘bergotong-royong’ melanjutkan perjalanan organisasi sampai tujuan.

Tapi dalam beberapa studi kasus, kekeluargaan kemudian dijadikan sebagai “tameng” agar bisa menghindar dari rule of game yang telah dibuat. Organisasi yang terlalu mengedepankan rasa kekeluargaan sebagai kulturnya akan lebih rawan terjadi kecelakaan organisasi.

Kapal titanic yang diklaim sebagai kapal terbesar dan sangat canggih itu juga ternyata karam karena kelalaian awak kapalnya yang terlambat merubah haluan kapal sebelum akhirnya menabrak gunung es yang menyebabkan lambung kapal bocor dan tenggelam. Kecelakaan itu terjadi karena awak kapal berada pada zona nyaman dan akhirnya melupakan rule of game atau aturan main kapal (organisasi).
Menurut hemat penulis, faktor kekeluargaan dan aturan main tidak bisa dilepaskan dalam menjalankan kapal organisasi. Keduanya harus berjalan beriringan atau bisa dinamakan ‘kekeluargaan konstitusional’. Karena jika hanya mengacu pada konstitusi, para anggota atau awak kapal akan dengan terpaksa, seperti robot, menjalankan tugas dan tanggungjawabnya tanpa ada sense of belonging atau rasa memiliki organisasi.

Begitupun sebaliknya, akan terjadi rawan kecelakaan jika faktor kekeluargaan mendominasi instrumen organisasi sehingga melupakan aturan-aturan main yang berlaku.

Dan sebenarnya kita tidak bisa menyelamatkan kapal yang tenggelam, kita hanya bisa mencegahnya tenggelam dengan mengantisipasi dengan ‘kekeluargaan konstitusional’ tadi. Faktor-faktor lain yang memungkinkan kapal akan tenggelam tetap akan terjadi. Tapi justru itu akan menambah kekuatan kita untuk lebih besar. Karena pelaut yang ulung tidak dilahirkan di laut yang tenang. Pelaut yang ulung justru dilahirkan dari ombak yang besar dan badai yang ganas.


Monday, 8 August 2016

Cantik Itu Yang Unik


Untuk pecinta film, siapa yang tidak mengenal Angelina Jolie yang sering muncul ke layar kaca sebagai pemeran utama dan paling mencolok. Muncul Dengan acting yang bagus dan paras yang anggun, tidak ada yang menolak jika banyak yang menyebut Angelina Jolie itu sosok wanita yang sempurna. Atau penyanyi Taylor Swift dengan tubuh tinggi ramping, hidung mancung dan berambut pirang menyanyi diatas panggung dengan penuh pesona. Dan sudah pasti tidak ada yang menolak jika mengatakan Taylor Swift adalah salah satu istri idaman.

Sadar atau tidak sadar, saat ini, kita sudah masuk pada era informasi. Arus kuat peradaban yang memaksa kita untuk mengkonsumsi informasi yang ada di media dewasa ini. Salah satu tujuan dari globalisasi, persamaan persepsi, “Siapa yang menguasai informasi, dia akan menguasai dunia”, semboyan inilah yang menjadi landasan orang-orang yang punya kepentingan untuk menyamakan persepsi semua orang; propaganda.

Propaganda memang menjadi alat yang sangat ampuh untuk mempermainkan pemikiran ataupun pendapat seseorang. Apalagi di zaman teknologi informasi ini banyak jalan untuk menjalankan misi propaganda, misalnya, media social, media cetak dan sekarang yang paling ampuh adalah media televisi. Karena indikator keluarga modern setidaknya punya satu televise dirumah. Dengan kekuatan seperti itu, propaganda-propaganda yang diluncurkan akan mudah diserap dan dikonsumsi tanpa harus dicerna oleh masyarakat umum.

Jika kita melihat ke pedalaman dunia yang belum dimasuki oleh media-media propaganda, maka kita akan melihat banyak, menurut persepsi kita, cantik itu unik. Saat anda berjalan-jalan ke utara Thailand, anda akan mendapati wanita berleher panjang. Mereka memanjangkan leher menggunakan kumparan/gelang kuningan sejak berusia lima tahun. Setiap kumparan/gelang kuningan ini akan berganti dengan yang lebih panjang secara berkala. Berat kumparan kuningan tersebut yang mendorong tulang selangka turun dan menekan tulang rusuk sehingga membuat leher menjadi lebih panjang. Kumparan ini tidak akan dilepas, kecuali jika ingin diganti dengan yang lebih panjang. Wanita suku Kayan melakukan itu dengan alasan kecantikan. Cantik itu yang berleher panjang.
Menjadi cantik versi suku Mursi di Ethiopia juga terbilang unik. Mereka menilai kecantikan seorang wanita dari seberapa lebar ukuran mulutnya. Semakin lebar ukuran mulut seorang wanita, maka semakin cantiklah dia. Tradisi meregangkan bibir ini disebut ‘labret’. Wanita suku ini mulai memperbesar ukuran mulutnya pada usia yang amat belia, yakni 13 hingga 16 tahun. Caranya pasti sangat sakit, karena bagian bawah mulut diiris sepanjang 1 sampai 2 cm lalu dimasukkan piringan bulat kedalam irisan luka tersebut. Setelah 2 atau 3 minggu, piringan tersebut diganti dengan ukuran yang lebih besar hingga mencapai 10 sampai 15 cm bahkan ada yang hingga 25 cm. Piring di mulut para wanita suku Mursi ini menandakan bahwa mereka memiliki daya tahan tubuh yang kuat, kedewasaan dan kecantikan. Jadi, menurut suku Mursi, cantik itu yang bermulut lebar. Dan masih banyak lagi bagaimana yang dikatakan cantik di dunia ini.

Kembali ke persoalan persepsi, sejarah munculnya propaganda dapat dimulai dengan membahas operasi propaganda pertama yang dilakukan oleh pemerintahan modern, yaitu pemerintahan Wodrow Wilson. Dia memenangkan pemilihan presiden tahun 1916 dengan platform “Perdamaian Tanpa Penaklukan”. Itu terjadi ditengah berkecamuknya Perang Dunia I. Rakyat Amerika waktu itu sangat anti perang dan merasa tidak ada alasan untuk terlibat dalam perang Eropa. Mereka kemudian membentuk komisi propaganda pemerintah. Komisi ini meraih sukses dalam waktu singkat mengubah masyarakat menjadi massa yang histeris dan haus perang.

Tidak usah sampai membahas propaganda perang. Sedari kecil, anak-anak, khususnya perempuan, sangat suka bermain boneka berbie. Mata berwarna biru, hidung mancung, tubuh ramping dan rambut pirang itu adalah persepsi cantik. Diluar daripada kriteria itu, bisa dikatakan wanita tidak cantik ataupun jelek. Salah satu metode propaganda yang terbilang sukses sampai sekarang. Sejak kecil pemikiran kita sudah ‘dikontrol’ secara fundamental. Dan setelah dewasa, kita akan cenderung melihat perbedaan itu adalah sesuatu yang unik bahkan aneh.

Sekarang, hampir semua negara-negara bisa membaca metode seperti itu, dan digunakan untuk mengangkat budaya masing-masing. Setelah Eropa sudah berhasil dengan mempengaruhi pemikiran masyarakat bahwa cantik itu adalah yang berambut pirang, hidung mancung, tubuh ramping dan bermata biru. Kini negara Korea juga mulai ikut menghegemoni budaya-budaya dunia dengan budaya Korea. Di Jepang bahkan jauh sebelum itu, dengan jargon “men-jepang-kan dunia”. Terbukti sekarang mampu meng-hegemoni dunia dengan propaganda-propagandanya.

Sunday, 7 August 2016

Alternatif dalam menyikapi Islam di Indonesia

Gambar : klikkabar.com

Fenomena penting yang mewarnai arus transformasi di dunia global adalah menguatnya tuntutan ke arah demokrasi. Seluruh dunia seolah-olah bergerak ke satu titik yang dinamakan demokrasi. Aristoteles dalam salah satu tulisannya mengatakan bahwa nizham (sistem) demokrasi adalah sebuah sistem yang natural, dimana sekumpulan orang yang demi keberlangsungan hidup mereka, memilih pemimpin diantara mereka sendiri yang kemudian berhak ditaati oleh yang lain. Abraham Lincoln, negarawan Amerika Serikat, kemudian lebih menegaskan makna demokrasi yang sebenarnya. Ia mengatakan: “Demokrasi adalah goverment of the people, by the people and for the people” (Pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat).
Berbicara mengenai Islam dan demokrasi merupakan dua hal yang serasi. Demokrasi dianggap kompetibel dengan ajaran Islam karena demokrasi adalah cerminan dari beberapa kulliyat (nilai-nilai universal yang dibawa oleh Islam). Dalam Islam dikenal konsep al-tsabit wa’l mutaghayyirat yang dimasukkan oleh para ulama dalam ranah kajian ushul fikih. Al-Tsabit adalah konsep agama yang baku, konstan, mapan dan tidak bisa diotak-atik lagi serta tidak akan lekang dimakan ruang dan waktu. Sedangkan mutaghayyirat adalah teks-teks agama yang qabil li takwil, boleh diterjemahkan sesuai dengan ruang dan waktu. Mutaghayyirat ini adalah ayat-ayat umum yang fleksibel aplikasinya. Risalah ketatanegaran yang sedang kita bincangkan ini datang mewakili varian teks agama yang mutaghayyirat. Ajaran Islam dalam ketatanegaraan menurut hemat penulis sengaja di-design Allah dalam bentuk yang universal (global) agar ia tetap bisa survive mengarungi setiap zaman dan kondisi yang berbeda-beda dan juga ghairu mutanahi (tidak ada ujungnya). Bayangkan misalnya bila Al-Quran mengatur detail-detail bagaimana proses pemilihan seorang presiden, niscaya ajaran Islam sudah lama punah seperti debu yang ditiup angin. 

Formalisasi dan ideologisasi Islam di Indonesia
Abdurahman Wahid dalam bukunnya “Islamku, Islam anda, Islam kita” menegaskan menolak ideologisasi Islam. Baginya, ideologisasi Islam tidak sesuai
dengan perkembangan Islam di Indonesia, yang dikenal dengan ‘negerinya kaum Muslim moderat’. Islam di Indonesia, muncul dalam keseharian kultural yang tidak berbaju ideologis. Di sisi lain, dapat dilihat bahwa ideologisasi Islam mudah mendorong umat Islam kepada upaya-upaya politis yang mengarah pada penafsiran tekstual dan radikal terhadap teks-teks keagamaan. Implikasi paling nyata dari ideologisasi Islam adalah upaya-upaya sejumlah kalangan untuk menjadikan Islam sebagai ideologi alternatif terhadap Pancasila, serta keinginan sejumlah kelompok untuk memperjuangkan kembalinya Piagam Jakarta. Juga langkah-langkah sejumlah pemerintah daerah dan DPRD yang mengeluarkan peraturan daerah berdasarkan “Syari’at Islam”. Upaya-upaya untuk “meng-Islam-kan” dasar negara dan “men-syari’at-kan” peraturan-peraturan daerah itu bukan saja a-historis, tetapi juga bertentangan dengan Undang-Undang Dasar 1945.
 Mengutip pendapat mantan Hakim Agung Mesir, Al-Ashmawi, upaya “syari’atisasi” semacam itu menurut ilmu fiqh termasuk dalam tahsil al-hasil (melakukan hal yang tidak perlu karena sudah dilakukan).
Penolakan Abdurahman Wahib terhadap formalisasi, ideologisasi, dan syari’atisasi itu mendorongnya untuk tidak menyetujui gagasan tentang negara Islam. Seperti sudah sering dinyatakannya, ia secara tegas menolak gagasan negara Islam. Sikapnya ini didasari dengan pandangan bahwa Islam sebagai jalan hidup (syari’at) tidak memiliki konsep yang jelas tentang negara.

Pengembangan untuk masa depan
Perhatian sengaja dipusatkan ke akar Islam untuk pandangan-pandangan sosial-politik, khususnya egalitarianisme, karena di bidang  inilah Islam dapat memberi kontribusi yang paling penting bagi pembangunan bangsa di masa depan, khususnya pembangunan demokrasi. Sebab, sekalipun akar Islam untuk segi-segi budaya lain, seperti spiritualisme, tetap amat penting, seperti dikatakan oleh Ernest Gellner di “Islam Kemodernan dan Keindonesiaan” karya Nurcholish Majid, spiritualisme  dalam bentuknya yang hierarkis seperti terdapat dalam, misalnya, ajaran-ajaran atau praktek-praktek kesufian tertentu, selalu terlihat dari keseluruhan Islam sebagai berada di tepian, tidak sentral. Kesufian sendiri melahirkan tradisi intelektual dan keagamaan yang kaya, yang pada intinya masih bisa dijejaki segi persambungannya yang autentik dengan Tradisi Agung Nabi sendiri. Namun tidak dapat diingkari bahwa dalam pengembaraan intelektual dan pertumbuhan pelembagaannya, sebagian sufisme akhirnya berujung pada pembagian manusia secara bertingkat-tingkat, tidak lagi egaliter sepenuhnya. Sementara itu, pada inti Islam, sebagaimana telah dikemukakan, semangat egalitarianisme adalah tetap. Dan egalitarianisme inilah, bersama dengan semangat keilmuan, yang membentuk bagian dari Islam yang paling sesuai dengan semangat zaman modern. Kata Gellner, “Kenyataan bahwa varian sentral, resmi dan ‘murni’ (dari Islam) itu, bersifat egaliter dan keilmuan, sementara hierarki dan ekstase termasuk bentuk-bentuk pinggiran yang terus mengembang dan akhirnya diingkari, sangat membantunya (Islam) untuk beradaptasi kepada dunia modern.”
Kegairahan keagamaan yang meliputi banyak kalangan dewasa ini, khususnya keagamaan Islam, dapat menjadi pangkal pengembangan dan pengukuhan akar-akar Islam bagi konsep-konsep tentang masyarakat yang terbuka, adil, dan demokratis di Indonesia. Tapi, kegairahan saja tentu tidak cukup. Lebih penting ialah adanya kemauan dan kesempatan untuk memperluas dan mempertinggi tingkat pemahaman akan ajaran-ajaran Islam.
Egalitarianisme itu seperti bisa dipahami dari salah satu kutipan sebelumnya, dengan kuat sekali menyangkut pula rasa dan kesadaran hukum, dan kesadaran bahwa tak seorang pun dibenarkan berada diatas hukum. Juga tampak dari salah satu kutipan sebelumnya, egalitarianisme itu, besera rasa dan kesadaran hukumnya, diwujudkan oleh Nabi dalam rintisannya untuk membentuk komunitas-negara yang berkonstitusi. Konstitusi Madinah dari zaman Nabi itu, sama halnya dengan semua konstitusi, adalah hasil pengikatan diri (‘aqd, “kontrak”) antaranggota masyarakat tanpa memandang latar belakang primordialnya. Karena itu, setiap konstitusi mengikat semua warga masyarakat, dan harus ditaati serta dipatuhi dengan konsekuen, sesuai dengan perintah agama untuk menaati setiap perjanjian dan kesepakatan bersama.
Berbagai problema umat muslim Indonesia, dan dalam hal ini umat Islam dimana saja, ialah kesenjangan yang cukup parah antara ajaran dan kenyataan. Dahulu Bung Karno menyeru umat Islam untuk “menggali api Islam”, karena agaknya dia melihat bahwa kaum Muslim pada saat itu, mungkin sampai sekarang, hanya mewarisi “abu” dan “arang” yang mati dan statis dari warisan kultural mereka. Kiranya, kutipan-kutipan panjang tersebut banyak menopang kepercayaan kaum Muslim tentang Islam, khususnya kaum muslim dari kalangan “modernis” dan kaum Muslim yang menghayati secara mendalam “api” Islam. Tetapi, barangkali yang lebih penting lagi ialah bahwa perspektif semacam itu dapat dijadikan sebagai titik tolak untuk melihat problema umat Islam di Indonesia dewasa ini berkenaan dengan sumbangan yang dapat mereka berikan kepada penumbuhan dinamis nilai keindonesiaan dengan bahan-bahan yang ada dalam ajaran agama mereka sendiri. Dan yang amat diperlukan oleh umat Islam, melalui para kaum intelektualnya, ialah keberanian untuk menelaah kembali ajaran-ajaran Islam yang mapan (sebagai hasil interaksi sosial dalam sejarah), dan mengukurnya kembali dengan yardstrick, sumber suci Islam sendiri, yaitu Al-Quran dan Sunnah. Tapi, barangkali hal itu akan berarti tuntutan untuk melakukan mujahadah, dengan memikirkan kembali makna Islam, umat, syariat, dan lain-lain.

Thursday, 23 July 2015

Mari Bersikap Dewasa Dengan Semangat Anak Kecil!




Hari raya idul fitri merupakan waktu yang paling tepat untuk bersilaturahmi bagi ummat muslim yang merayakan kemenangan setelah berpuasa sebulan penuh. Setelah melaksanakan sunnah sholat idul fitri sudah menjadi kultur masyarakat menyambangi sanak keluarga, teman, serta kerabat. Saya beserta keluarga pun begitu. Momen sekali setahun itu dimanfaatkan dengan baik untuk menyambung kembali ikatan persaudaraan yang kabur selama setahun karena kesibukan masing-masing dari kita.


Ada cerita, saat menyambangi sanak keluarga, semuanya berkumpul. Kakek, nenek, om, tante, sepupu, dan kemenakan yang masih kecil. Dan sudah menjadi hal yang pasti ketika mucul beberapa pertanyaan-pertanyaan yang menurut saya mengintrik. Seperti, kapan lulus? Kemudian saya menjawab dengan nada yang agak santai, “kalau saya sudah merasa  pantas menjadi sarjana.”


Pertanyaan-pertanyaan seperti itu juga dilontarkan kepada keluarga-keluarga sebaya saya. Tidak terkecuali kemenakan yang masih kecil yang ditanya soal cita-cita mereka. Ada yang menjawab ingin jadi dokter, professor, presiden, dan jawaban-jawaban yang membutuhkan perjalanan panjang hidup mereka. Tapi, seorang anak kecil tidak memikirkan persoalan itu, tentang halangan dan rintangan mereka. Mereka mungkin cuma asal bicara. Sedangkan menurut saya itu adalah optimisme seorang anak kecil. Saya merasa sangat iri. Dengan pertanyaan yang saya jawab tadi seolah saya tidak bisa memantaskan diri. Pun dengan modal hidup saya selama bertahun-tahun. Ini bukan persoalan idealis atau apalah, tapi persoalan realitas, itu yang biasa saya dengar. Menurut pandangan saya justru itu bukan persoalan realitas, tapi persoalan semangat hidup dan optimisme.


Saya juga pernah merasakan menjadi anak kecil. Tugas saya hanya bermain dan bermimpi setinggi bintang. Semua yang saya inginkan pasti saya perjuangkan. Seperti saat menginginkan mainan. Saya tidak punya cukup uang untuk membelinya. Kemudian meminta orangtua untuk dibelikan dan tidak dipenuhi. Terus saya menangis yang kencang. Bagi sebagian orang itu cengeng, tapi itu dulu adalah cara saya untuk mendapatkan sesuatu.


Dan dewasa ini semua mimpi itu terkikis sedikit demi sedikit. Mungkin karena sudah melihat kerasnya rahang orang-orang itu. Ayolah, dimana kau tomy? Dimana jiwa anak kecilmu? Dimana kau taruh mimpi-mimpimu itu?
 
Saya pernah mendengar prinsip hidup captain bajak laut luffy dan mencoba memegang itu. “Jika kamu tidak mengambil resiko, kamu tidak bisa menciptakan masa depan”, katanya. Jadi, hemat saya mari bersikap dewasa dengan semangat anak kecil! He he he

Thursday, 18 December 2014

Mengungkapkan Emosi



Ada banyak cara bagaimana orang-orang mengungkapkan ekspresi dalam dirinya, termasuk emosi. Emosi tidak muncul begitu saja dalam diri yang kemudian membuat kita jadi lupa diri. Semua yang terjadi pasti ada pemicunya sehingga setiap orang meluapkan emosinya dengan cara yang berbeda-beda pula. Tidak terkecuali pada teman-teman saya di Malang. Saudara sesama pencari ilmu otomatis melewati masa-masa dimana kami harus susah bersama dan senang saling berbagi. Luapan emosi seseorang diakibatkan karena adanya pemicu-pemicu atau faktor-faktor yang membuat emosi itu keluar, semisal dimarahi oleh dosen, diputuskan sama pacar, bertengkar sama teman, dan lain sebagainya.

Pernah diadakan suatu kegiatan di salah satu organisasi saya di Malang. Satu teman saya pada saat itu atau sebut saja saudara seperantauan menjabat di posisi strategis organisasi tersebut. Banyak masalah yang menimpanya mulai dari masalah dana, kurang harmonisnya pengurus pada saat itu, jarang komunikasi, dan masih banyak lagi masalah-masalah yang menimpanya saat itu. Posisi saya yang tepat pada saat itu adalah sebagai partner atau tempat dimana dia bisa menceritakan semua masalahnya. Suatu ketika di warung makan saya sempat bercerita kepada dia, bahwa, konflik-konflik atau masalah-masalah yang terjadi di dalam suatu perkumpulan itu wajar. Tetapi yang harus diperhatikan adalah, semakin besar tanggungjawab yang diemban seseorang, pasti semakin banyak masalah yang dihadapi, itulah harga proses pembelajaran. Lantas kemudian saya bertanya kenapa sedari kemarin tidak tampak wajah kekesalan atau emosi yang kau munculkan. Kemudian dia menjawab, saya memang bukan orang yang menampakkan kekesalan saya di muka umum, tetapi kekesalan saya, saya pindahkan ke tempat lain yang lebih aman. Kemana itu? Ke makanan. Untuk memperjelasnya, teman saya itu meluapkan emosinya ke makanan. Sejak saat itu saya tahu, ketika dia sedang marah, untuk menenangkannya harus siapkan makanan hehehe.

Ada juga teman saya yang diberi banyak tugas. Belum urusan kampus yang bergulat dengan tugas, belum selesai itu sudah ada panggilan dari UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa), belum lagi kegiatan diluar  kampus. Semua pikiran-pikiran itu berkumpul di satu kepala yang lumayan kecil. Hingga puncak dari segala emosinya itu akhirnya tumpah dengan cara meneteskan air mata. Dengan semua beban yang dia pendam sendiri. Memang ada karekter manusia yang seperti itu, memendam emosinya sendiri. Satu pelajaran yang saya petik dari situ adalah bagaimana kita sebagai makhluk sosial bisa berinteraksi dan berbagi sesama makhluk sosial. Kita bukan manusia individu yang bisa berbuat semua sendiri, sedikit banyaknya pasti membutuhkan pertolongan dari orang lain.

Masih dengan kasus yang sama. Masalah di organisasi, kuliah berantakan, dan bertengkar dengan teman. Saya pernah jumpai teman yang cukup aneh tapi normal. Bagaimana dia bisa mengontrol emosinya yaitu dengan pergi jalan sendirian. Entah itu dengan naik becak ke alun-alun atau naik angkot sampai ke terminal setelah itu balik lagi kerumah. Fenomena yang ada saya lihat setiap hari pada dirinya. Mengekspresikan kekesalan dengan pergi berjalan-jalan sendiri dan tak satu temannya pun yang tahu sampai dia pulang dan menceritakannya.
Dari semua cerita diatas, satu yang menjadi kekaguman saya pada mereka bahwa mereka adalah manusia biasa yang tidak terlepas dari rasa benci, sakit hati, dan emosi. Tapi mereka dapat mengontrolnya dengan baik atau mengalihkan rasa kesal mereka ke tempat yang tidak ada satu pun orang yang merasa dirugikan. Apresiasi yang sangat tinggi pula saya kepada teman-teman saya karena tidak berbuat yang 'tidak-tidak' seperti yang biasa dilakukan anak muda zaman sekarang seperti ikut geng motor, ricuh dijalan, dan bentrok atau tawuran. 

Monday, 8 December 2014

Psikologi Manusia Modern




Karena memang hobi berselancar di dunia maya, saya biasanya menghabiskan waktu seharian di depan laptop. Segelas kopi untuk menambah kehangatan malam di sebuah ruangan sederhana dengan gitar yang menggantung di dinding serta buku-buku yang berserakan di kamar. Belum lama ini, ketika saya sedang online, salah satu teman mem-posting sebuah video tentang psikologi manusia modern, kemudian saya membuka dan menonton video tersebut.


***

Ceritanya begini, salah satu program televisi di Jerman membuat sebuah acara dengan konsep jebakan. Semua kamera sudah siap diposisinya masing-masing. Satu pria dengan perawakan kumal, kotor, berantakan, berjalan di pusat kota. Lalu-lalang orang berjalan sibuk dengan urusannya masing-masing, atau mungkin menyibukkan diri dengan sesuatu yang tidak penting. Kemudian pria yang berpenampilan seperti pengemis tadi berpura-pura pingsan di tengah ramainya orang-orang berjalan. Ia dengan jaget lusuhnya terbaring diatas trotoar cukup lama. Terlihat tidak ada yang mempedulikan pria tersebut. Selang sekitar 15 menit terbaring, lelaki itupun bangun lalu menghadap ke kamera dan mengangkat bau serta melengkungkan bibirnya member tanda, bahwa tidak ada yang memperhatikannya.

Sesi berikutnya, masih dengan pria yang sama. Tapi dengan penampilan yang jauh berbeda dari tampilan pertama tadi. Kali ini dengan mengenakan jas silver dan berdasi menenteng sebuah koper seperti seorang eksekutif muda. Kembali dengan konsep yang sama, pria tersebut berjalan dikerumunan orang. Denga postur yang tegap dan rambut dibelah samping melewati beberapa toko yang ada di sampingnya sampai kemudian ia kembali berpura-pura pingsan. Tidak berselang lama orang-orang yang berbelanja serta pejalan kaki lain menghapiri pria tersebut dengan perasaan khawatir. Salah satu dari mereka bahkan ada yang berinisiatif memanggil ambulance.

***


Ada sebuah kutipan yang mengatakan bahwa “Don’t judge the people by the cover”. Jangan melihat atau menilai seseorang hanya dari luarnya atau penampilannya. Setiap orang di dunia ini hampir setiap hari mengatakan hal tersebut tetapi dalam kenyataannya, tidak sama sekali. Meskipun dari cerita diatas pada sesi yang pertama tidak ada pernyataan langsung bahwa tidak menolong pria kumal tersebut karena penampilannya, tetapi jika dibandingkan dengan sesi yang kedua dengan pria yang sama tetapi dengan penampilan gagah dan berwibawa kemudian dengan cepat ditolong oleh orang sekitar, sudah dapat disimpulkan bahwa kebanyakan masyarakat modern hari ini masih memandang orang dari penampilannya. 

Ini juga menunjukkan bahwa dewasa ini masyarakat dunia masih tampak perbedaan-perbedaan kelas social satu sama lain. Masyarakat yang tingkat ekonominya tinggi berkumpul dengan masyarakat dengan ekonomi tinggi pula. Sementara masyarakat yang tingkat ekonominya rendah, berkumpul di pasar atau di terminal. Tidak heran jika cerita seperti diatas, saat pria yang tampak miskin tidak ada orang yang menolongnya. Yah, begitulah realita hari ini, psikologi masyarakat modern.
Corak kehidupan seperti inilah yang membuat kita sering melupakan aspek-aspek penting dalam hidup bersosial. Masing-masing manusia individualis, sehingga menghiraukan bagaimana seharusnya kita tolong menolong atau bahu-mambahu dalam menyelesaikan sebuah persoalan.